Selamat Datang

Anak muda penuh kreativitas dan semangat juang demi kemajuan bangsa dan negara. "GERAKAN SEJUTA AKSI UNTUK NEGERI"

Selamat Datang

Anak muda penuh kreativitas dan semangat juang demi kemajuan bangsa dan negara. "GERAKAN SEJUTA AKSI UNTUK NEGERI"

Selamat Datang

Anak muda penuh kreativitas dan semangat juang demi kemajuan bangsa dan negara. "GERAKAN SEJUTA AKSI UNTUK NEGERI"

Selamat Datang

Anak muda penuh kreativitas dan semangat juang demi kemajuan bangsa dan negara. "GERAKAN SEJUTA AKSI UNTUK NEGERI"

Monday, 15 July 2013

Teori Pendidikan Mana Yang Terbaik

“Sebaiknya ibu mengatakan pada anak ibu bahwa sekolah dimana-mana sama saja. Ibu juga sebaiknya harus mendisiplinkan anak ibu bahwa biaya sekolah itu cukup mahal. Anak-anak diajarkan juga untuk mengerti kondisi bahwa orangtua telah menyekolahkan anak dengan susah payah, apalagi bila sekolahnya itu adalah sekolah favorit maka sebaiknya si anak harus beradaptasi dan membiasakan diri dengan hal-hal yang tidak nyaman untuk menjadi nyaman dan berusaha sebaik-baiknya karena peluang sebagai anak yang diterima di sebuah sekolah favorit sangatlah tidak mudah. Seorang anak harus mengerti apa arti syukur. Ibu-ibu ingat, sebuah ayat yang menyatakan bahwa bila kita bersyukur maka akan ditambah nikmatnya, bila tidak bersyukur maka siksaKu sangat pedih, sesuai dengan firman Allah dalam Al Quran surah Ibrahim ayat 7.”
Uraian panjang lebar dari ustadz Ghufron membuat hati bu Maya sangat tidak nyaman. Siapa sih anak di dunia ini yang mau punya suasana sekolah tidak enak. Semua orangtua pastilah sedih bila melihat anaknya tidak mampu beradaptasi dan tidak memiliki kawan di sekolah yang baru, walaupun sekolah tersebut dikenal sebagai sekolah terbaik dan dikenal sebagai sekolah favorit, jadi rebutan dan hanya anak-anak pintar saja yang diterima di sekolah tersebut. Ditambah lagi teori sang ustadz terhadap kondisi anak bu Maya, sungguh hal ini tidak sesuai dan tidak nyaman bagi bu Maya sendiri yang sangat tahu anaknya seperti apa.
Ingin menyanggah sang ustadz, namun waktu bu Maya tidak memungkinkan dan rasanya tidak sopan. Budaya di Indonesia, seorang ustadz atau pembicara adalah benar dan selalu benar, sementara si pendengar adalah pihak yang diberitahu, maka membuat bu Maya menjadi malas untuk menyanggah. Tujuan bu Maya untuk ikut acara seminar pendidikan sehari ini adalah agar mendapatkan ilmu mengenai pendidikan anak. Di sela sesi tanya jawab, bu Maya menanyakan: bagaimana agar anaknya betah di sekolah dan mampu beradaptasi dengan baik karena bila dikeluarkan dari sekolah rasanya sangat sayang karena sekolahnya adalah sekolah favorit yang masuknya pun sangat susah. Namun bu Maya tidak mendapatkan apa yang diinginkannya.
Ya, bu Maya benar dan sang ustadz pun tidak salah.
Tidak ada kata absolut atau mutlak benar untuk sebuah kasus, apalagi kasus tersebut menimpa personal. Maka yang paling tahu apa yang harus dilakukan adalah orangtua anak itu sendiri karena sebuah kasus yang menimpa seorang anak itu dilihat daripada latar belakang keluarga dan backgroundkehidupan sebelumnya. Selain itu masa kecil si anak, perlakuan orangtua pada anak dan banyak lagi, pola asuh orangtua yang sedikit banyak mempengaruhi keadaan dan kehidupan serta kebiasaan si anak, juga mempengaruhi kasus-kasus yang terjadi pada seorang anak.
Teori pendidikan tidak ada yang seratus persen benar atau tepat, yang sebetulnya terjadi adalah cocok atau tidaknya kita dengan teori tersebut, tepat atau tidak teori tersebut dengan kasus kita dan hal ini semua kembali pada keluarga masing-masing. Istilahnya bagaimana mereka mendidik anak, maka kasus-kasus dan penyelesaiannya akan tergantung pada pola didik dan pikiran sang orangtua bukan tergantung pada pendidikan manapun. Jadi seorang ibu atau ayah tidak perlu terlalu repot ikut seminar pendidikan setiap minggu, ikutlah hanya sebagai sarana untuk menambah ilmu dan menambah wawasan. Namun setiap keputusan maupun jalan pendidikan yang dibuat adalah tergantung pada orangtua itu sendiri, tidak tergantung pada seminar maupun teori manapun dan yang jelas solusi setiap anak dalam sebuah keluarga tentu saja berbeda walaupun anak tersebut datang dari rahim yang sama.
Jadi kembali pada kasus diatas, bila bu Maya ataupun banyak orangtua berharap bahwa masalah anaknya akan selesai dengan ceramah sang ustadz atau dengan trainer darimanapun, maka untuk menjawab semua permasalahan anak, ketahuilah bahwa kuncinya ada pada orangtua itu sendiri. Pahamilah sang anak sebagai individu sama sepertinya ketika diri kita juga ingin dapat dipahami dan dimengerti oleh orang lain. Carilah akar permasalahan yang membuat anak tidak betah, baru kemudian dicari solusi yang terbaik dengan tentunya tidak lepas memohon petunjuk dari Allah.(eramuslim)

Ketika Anak Yang Soleh Lupa Berdoa

Ibu dan anak Berdoa
Ingat maupun tidak, tapi hadist mengenai anak soleh akan mendoakan orangtua, atau anak yang soleh doanya dikabulkan dan akan menolong orangtua ketika di akhirat kelak sangat familiar ditelinga bu Nisa.
Orang tua mana yang tidak mau punya anak yang soleh, segala cara terus dilakukan untuk mendapatkan anak yang soleh. Baik menyekolahkan ditempat yang mahal, yang agamanya bagus, sampai mengantar jauh keluar kota untuk mendapatkan anak yang soleh.
Ya,anak yang soleh harus diupayakan dan sudah merupakan kewajiban orangtua untuk men-solehan anaknya dengan cara yang benar.
Belajarlah anak yang soleh ini, dengan segenap kemampuannya, tawa riangnya membuat dia mampu atau tidak mampu menjadi anak yang soleh. Ada anak yang sebentar saja langsung menjadi soleh, ada anak yang lama sekali baru soleh, ada juga anak yang dipukulin dulu baru soleh. Ada juga anak yang setelah ibu atau ayahnya meninggal baru soleh, memyesal dan teringat semua kata-kata dan nasehat orang tua-nya ketik masih hidup. Selain itu, ada juga anak yang sama sekali tidak soleh, atau gagal menjadi anak yang soleh, bahkan mental dan membenci semua yang berbau Islam, berbau agama, naudzubillhmindzalika.
Orangtua memang harus lelah untuk menjadikan anaknya soleh, bahkan bagi oangtua yang sudah bersusah payah menjadikan anaknya soleh; berdoa setia malam, dan mendatangkan guru dan ustad untuk mengajari anaknya dengan harapan dapat mensolehkan anaknya. Namun, ternyata anak soleh tidak kunjung juga didapatkan, jangan bersedih hati, percayalah Allah tidak tidur.
Panci yang dipakai untuk masak rendang berhari-hari, tentu saja dasar panci akan mengeras dan berwarna hitam, walau akhirnya dipakai untuk sup sekalipun, sang panci tetap berwarna hitam bekas rendang. Maka walau anak yang soleh pada akhirnya tidak sesoleh yang diinginkan, semua pelajaran dan pendidikan untuk mensolehkan anak itu, tetap membekas dalam lubuk hatinya dalam pikirannya, dalam bawah sadarnya. Gerakan sholat yang pernah diajarkan, setiap kebaikan yang selalu dibisikkan, keinginan berbuat baik, ilmu-ilmu tersebut sudah tertanam dan membekas dalam dirinya! Hanya saja lingkungan yang akan mempengaruhinya, bila lingkungan buruk dan kurang nuansa agama, maka akan membuat sang anak tetap soleh dengan versi berbeda. Misal; anak yang dulunya dipesantren lalu menjadi artis sinetron atau penyanyi, maka lagu-lagu yang dibawakan masih religius, tidak liar juga, walau Iingkungannya adalah lingkungan perfileman/entertainment. Namun, keinginan untuk menjadi orang baik dalam lingkungan tersebut tetap ada, masih ada rambu- rambu dalam dirinya. Tidak ada kata sia-sia dalam mendidik anak yang soleh, yang sia sia adalah bila tidak mendidik.
Hanya saja yang suka lupa didengungkan para guru dan orangtua terhadap anaknya adalah menanamkan kebiasaan mendoakan orangtua, bukan dengan doa yang rutin; Rabbighfir lii waliwaa lidayya warhamhumaa kamaa rabbayaanii shaghiiraa.” Namun, doa yang betul-betul untuk orang tua yang dihayati dan dipahami, dan menanamkan betapa pentingnya arti doa kita bagi orangtua. Doa anak yang soleh bukan doa anak biasa, pertama soleh dulu, kedua adab berdoa dan pentingnya doa tersebut, kalau perrlu sebuah sekolah bagus juga bila mengadakan rutinitas pagi berupa doa bagi orangtua, dimana anak-anak diajarkan dulu menulis dan berpikir doa apa yang sebaiknya dilantunkan buat orangtua.
Tiga hari lagi bu Nisa ulang tahun, dan yang dipikirkannya bukan hadiah dari anak-anak berupa kado ini atau kado itu, tetapi berupa doa yang sudah disiapkn anak-anak sejak minggu lalu, doa yang berkualitas bukan doa yang dihafal beramai-ramai didalam kelas. Doa spesifik yang hanya anak kita lantunkan untuk orang tua tersayangnya. (eramuslim)

Tips Asyik Buat Yang lagi Jomblo VOA-teen


Assalamuallaikum, hallo kita jumpa lagi, sob. Yang jomblo-jomblo mana suaranyaaaaa!! Hee... Kali ini kita mau kasih beberapa tips asyik buat kamu, biar nggak merasa seperti species terasing dan member tetap kasta tersiksa dimalam minggu. Cekidot yach

Jomblo itu free!!Tanamkan dalam hati bahwa jomblo bukan berarti kiamat siaga satu, sob. Yang ada kamu bisa pergi kemanapun dan kapanpun tanpa kudu laporan dulu. Saat kamu jadi jomblo, kamupun bisa baca artikel ini ampe habis, tanpa harus ada yang nge-ping kamu di BB atau sms nggak penting. Hmm.. bukankah kebebebasan kaya gini yang selalu kamu inginkan?. Selain itu sodara-sodari yang dirahmati Allah, jadi jomblo juga bikin kita nyaman. Nggak ada yang posesive pengen ngatur- ngatur hidup kita, nggak ada yang cemburu atau curiga plus kroni- kroninya. Kita bisa ngaji bareng temen, atau sekedar nongkrong di rel kereta yang lagi rame kereta lewat ... hmmm, sounds fun!!
Rumput tetangga lebih PinkJadi jomblo tuch kudu PD. Bukan karena modus biar nggak dianggap nggak laku, tapi emang karena jadi jomblo tuch asyik, sob. karena itulah, buat mencegah rasa minder yang datang ke kamu, jangan gampang ngiri dan mupeng kalau lihat teman-temanmu lagi ngelakuin dosa (baca: pacaran). Karena eh karena, sebenarnya kamu sebagai jomblo lebih beruntung karena jauh dari dosa. Percaya nggak percaya itu urusan situ, tapi yang pasti kalkulator malaikat tetap  jalan ngitung dosa dan pahala, sob.
Dan juga jangan gampang parno juga kalau tiap pagi, mereka dapat salam sayang-sayangan dari pacar. Kamu bisa kok ke apotek terdekat, kamu buka pintu dan bakal ada yang nyapa kamu “selamat pagi”, sama juga kan?
Jadi jomblo itu pinter kelas sadizz bos!Kurikulum buat para jomblo di malam minggu biasanya kalo nggak main game, ngumpul ama temen, atau paling banter nonton TV. Kelihatannya miris banget kan? tapi sob sebenarnya nggak selalu gitu loh. Dengan jadi jomblo kita bisa punya banyak waktu buat berkreasi tanpa harus kawatir ada yang nyela dan ngusik. kalau udah gitu, kita bisa maksimalkan masa muda kita dengan penuh prestasi. Jadi jomblo nggak melulu berarti kamu nggak laku, tapi memang sengaja menahan diri biar nggak invest dosa diakherat dan nambah pinter di dunia. Investasi yang menguntungkan, kan? So, tutup kuping rapat-rapat buat semua bisikan sesat yang bilang kalau jomblo adalah member tetap dari kasta teraniyaya. Woles aja, sob.  Kalau jodoh nggak akan kemana. Betul??
Jomblo Hemat, Jomblo KayaYang ini penting terutama buat para cowok. Jadi jomblo berarti nggak kudu repot sama cewek yang nangis sambil guling guling yang ngebet minta dinner di resto atau baju bermerek dengan harga selangit, padahal kamu nggak bawa kartu kredit, Visa, Mastercard, atau Debit melainkan cuma kartu miskin dari kelurahan samping rumah, hee... Bayangpun, sodara- sodara, gimana repotnya kalo kita kudu ngadepin situasi kaya’ gini.
Jomblo KadaluarsaNah kalau yang satu ini kudu kita hindarin. Jadi jomblo emang asyik, tapi juga nggak boleh kelamaan, alias terlalu kadaluarsa sob. Karena fitrah manusia emang kudu nikah. Tapi buat yang sakral satu ini, kita kudu pinter nentuin waktu dan saat yang tepat, trus sama orang yang tepat juga. eits, tapi caranya juga kudu pas, lewat ta'aruf trus nikah deh. Jadi nggak sekedar umbar nafsu nggak jelas sama sembarang orang.
(NayMa/voa-islam.com)

Sunday, 14 July 2013

Marah Diisengin? Salah Sendiri Pakai Rok Mini! VOA -teen


Assalamuallaikum. Kita jumpa lagi friend, kali ini kita mau persembahkan tulisan ini khusus buat para cewek- cewek yang hobi banget pake pakaian minimalis alias semi telanjang. Jangan buru- buru sensi ya, hee... baca dulu ampe tuntas, oke.

Sebagai cewek normal, wajar dunk kalo kita suka banget dengan yang namanya pujian. Hal itu juga yang menginspirasi teman- teman kita buat tampil dengan gaya eksis ala mereka. Tujuannya balik lagi cuma satu tadi itu, pujian cantik dari siapapun yang melihatnya, dan atau jadi yang paling bintang diantara yang lain.

Alhasil, banyak dari mereka yang kemudian pada berlomba- lomba mempermak diri buat jadi yang tercantik. Dan dengan sedikit rayuan iklan fashion yang wara wiri di media, mereka pun bersedia bahkan dengan senang hati menjadi konsumennya. Walaupun dengan itu berarti mereka yang kudu menanggalkan rasa malu dan nggak sungkan- sungkan mempertontonkan aurat. Demi predikat cewek modern, apapun dijabanin dah!

Next, mereka mulai deh hang out di banyak tempat. Kebanyakan sih pada nongkrong bareng di mall. Dan bener aja, banyak mata yang melihat mereka dengan syahwat.  Ya gimana nggak, mereka pada pakai rok mini, hot pants, dan banyak lagi pakaian minimalis gitu. Tapi anehnya, cewek- cewek itu pada marah kalo di godain. Si cowok pada di damprat dengan bahasa kasar, dan dikatain nggak punya etika.
Hmmm... tapi gimana yach... nggak bermaksud belain yang cowok- cowok nich ye, heee... kenapa yach  buru- buru menyalahkan cowoknya, kalau mereka menggoda cewek yang suka pakai rok mini? bukankah memang sesuatu yang di jual itu untuk dibeli? ya kalau memang nggak suka pakai rok mini dan nggak mau di goda, ya pakai jilbab dan kerudungmu dong ah. So simple kan???  paling- paling, cowok- cowok akan bilang "assalamuallaikum", tuh di doain kan malah.

Selain upaya ngeles diatas, banyak yang protes juga, gimana negara ini mau maju kalau masalah rok aja masih dibahas"??? weitss jangan salah, girls!! justru karena rok yang bermasalah itulah, pikiran orang- orang yang nggak punya iman ikut bermasalah. Gimana nggak girls, yang namanya cowok mah semua juga manusia. Nah kalo kamu suguhin tontonan nggak jelas, ya jelaslah mereka jadi nggak jelas.

Udah banyak yang bisa kita lihat contohnya loh. Bill Clinton, salah satu presiden amerika itu, akhirnya nyaris dibuat tumbang dari kursi Kepresidenan, karena wanita muda bernama Monica Lewinsky. Selain itu Silvio Berlusconi, orang terkaya ketiga di Italy plus Perdana Menteri Italia, juga ikut tercoreng namanya setelah terlibat Affair dengan sejumlah  cewek model,artis-artis muda, presenter televisi, dll. Lain lagi cerita dari  Eliot Spitzer. Si Gubenur New York yang sangat pandai berpidato ini, mendengung-dengungkan akan menindak para pelaku korupsi, dan berjanji akan membangun reputasi yang baik serta menjaga kesucian keluarga, tapi ternyata sodara- sodara, karirnya selesai setelah terjegal skandal prostitusi. Dan masih banyak lagi contohnya, yang nggak mungkin disebutkan satu persatu.

MasyaAllah, ternyata tepat banget kan yang dipesankan oleh Rasulullah SAW, 14 abad lalu. Beliau, Rasul SAW bersabda : “Tidaklah aku tinggalkan fitnah yang lebih besar bagi kaum lelaki melebihi fitnah wanita.” (HR Bukhari dan Muslim).

Jadi girls, tampil modern and smart nggak harus pake acara nyaris telanjang kok. Malah dengan tampilan seronok gitu, justru kamu akan dinilai rendah oleh banyak mata jalang yang memandangmu. Dengan menghargai diri kita sendiri lewat pakaian yang sopan yaitu berjilbab dan berkerudung, juga bakal ngefek ke diri orang lain yang bakal ikut menghargai kita. Dan setelah itu kalau kamu benar- benar bersinar karena prestasi kamu, orang juga hanya akan fokus kesana, tanpa harus mereka menggoda kamu karena nafsu mereka.
(NayMa/voa-islam.com)

Berhenti Nge-Haram Shake! VOA-teen


Buat kamu yang biasa berselancar di dumay, mungkin pernah melihat sejenis tarian yang lagi happening banget sekarang. Yups namanya lebih asyik kalo kita ganti dengan haram shake, heee... Tarian ini biasanya GJ alias nggak jelas atau suka- suka, dan kebanyakan dari para pelakunya nggak sungkan- sungkan mempertontonkan aurat mereka sambil menikmati dance dan musiknya. Yah maklum aja, menurut sejarahnya tarian ini aja terinspirasi dari gaya orang mabuk atau orang gila tapi yang mereka kasih label fantastik.
Friends, mungkin banyak kamu yang berpikir kalau tarian ini menyuguhkan hiburan, apalagi kaya'nya asyik dan bisa banget buat lucu- lucuan bareng genk. Tapi lihat deh, sekilas aja kamu yang cerdas pasti bertanya, adakah sesuatu dibalik pembuatan tarian itu? come on, wabah seperti nggak akan mungkin sekedar disebar tanpa ada embel- embel didalamnya. Menyamakan diri dengan orang gila, atau yang selevel dengan orang yang nggak waras, alias lagi sakau, plus kehilangan kehormataan dan rasa malu dengan berani semi telajang, kelihatannya jadi tujuan dari semua ini. Padahal Nabi Muhammad Sallahu 'alaihi wassalam bersabda,"Islam itu tinggi, dan tidak ada yang lebih tinggi darinya" (HR. Muslim). So, kalau kamu dengan bersuka ria dan rela hati ngedance begituan, sama aja kamu pasrah disebut merendahkan agama kamu sendiri, sekaligus happy banget disamain dengan orang gila.

Ada lagi yang berpendapat, "Ah buat asik- asik aja kale', lagi pula ajang kreativitas yang asyik poenya". Pertanyaannya  bukankah yang namanya kreatifitas itu kudu orisinal alias asli bukan plagiat milik orang lain. Apalagi niru- niru budaya yang jelas- jelas jauh dari nilai islami? Lagi pula friend, masih banyak cara berkreatifitas yang lebih asyik dari semua itu. Dan tentunya nggak pake acara buka-bukaan, dan yang lebih pasti lebih Smart.
Sebagai remaja yang cerdas,  jangan mau di cuci otak dengan gratis, cuma karena topeng kesenangan yang mereka bawa. Termasuk juga jangan gampang latah dan bangga cuma sekedar jadi penggembira budaya yang lagi In.  Hey, kamu yang cerdas pasti punya jati diri yang jelas. Dan itu terlalu mahal bro, buat diutak atik.

Wait, jadi ingat satu hal sebelum kita tutup. Friends, setuju nggak kalau sabda nabi Muhammad adalah perkataan yang paling baik? jawabnya pasti iya lah. Dan beliau sudah bersabda,  “Sungguh, kamu akan mengikuti (dan meniru) tradisi umat-umat sebelum kamu, bagaikan bulu anak panah yang serupa dengan bulu anak panah lainnya. Sampai kalaupun mereka masuk ke lubang biawak niscaya kamu akan masuk ke dalamnya pula.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, orang-orang Yahudi dan Nasranikah?” Beliau menjawab, “Lalu siapa lagi.” (HR. Bukhari dan Muslim). Dan sabda beliau berabad-abad yang lalu itu, ternyata kejadian dijaman ini. Beliau bukan peramal, melainkan apa yang beliau sabdakan adalah berasal dari Allah subhanahu wata'ala.  So, kamukah termasuk orang yang ada dalam sabda beliau? jawabannya tergantung pilihan kamu sendiri.
(NayMa/voa-islam.com)

Saturday, 13 July 2013

Sante Sob, Jodohmu Nggak Akan Ketukar


"Buanglah "sampah" pada  facebook anda", kelihatannya ungkapan ini pas banget buat menggambarkan kebiasaan yang banyak bertebaran di facebook anak muda sekarang. Secara gitu, mereka yang pada galau hari- hari isinya cuma memasang sampah hati di wall facebook. Kebanyakan dari mereka temanya sama, yaitu galau soal lawan jenis atau gebetan. Tapi kalau soal actionnya, bisa macam-macam sob. Mulai dari pasang foto memelas nan datar, sedatar tipi layar datar, ditambah dengan tulisan "Jomblo dijual terpisah... seribu tiga, masih kembali gopek", sampai jejeritan ampe ribuut level akherat 
#lebay mode on.

Sob, kalau dipikir- pikir, kenapa kita musti galau soal jodoh sih, emang situ bener udah siap nikah?. Kalau belum, woles aja, men! hidup cuma sekali ini ngapain kudu dibikin riweh, atuh. Nah kalo yang pada ngeles bilang, "Hadee, gue kan nggak pengen buru- buru nikah, masih kecil inih", lah trus ngapain dirimu buru-buru cari pasangan?. Buat seneng- seneng? Sob, masih banyak cara seneng- seneng yang bikin seneng dan pastinya lebih save. Ya iyalah, kamu tahukan pacaran itu nggak mungkin sekedar deklarasi "Aku pacarmu, dan kamu pacarku", trus udah. Episode berlanjut pasti ada, bahkan kadang banyak yg ampe offside.  
Ya gitulah, anak muda yang pacaran sekarang pada bertingkah seakan-akan si gebetan dah pasti jadi istri atau suaminya. Nggak cuma pacaran, modus yang mendekati itu contohnya HTS (hubungan tanpa status), TTM (teman tapi mesra), LDR (long distand relationship) juga akhirnya menjurus jadi ajang buat PDKT. alasannya sih, ya cari pasangan hati. Padahal sob, Allah saja udah janji Dalam Alquran, kalau semua makhluk itu ada pasangannya di surat Adz Dzaariyaat ayat  49,
"Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah.".
Nah, kalo udah Allah yang janji, masak kamu masih nggak mau ngebuang jauh- jauh deh virus H2C alias harap- harap cemas tentang dimana pasangan hidup kamu, siapa dia, bla.. bla.. bla.. Nggak usah parno kale'. Jodoh atau soulmate itu udah disiapin, dan pasti terbukti. Kamu bisa lihat buktinya disekeliling kamu,  semua udah pasti ada pasangannya sob, ada siang ada malam, ada atas ada bawah, ada kiri ada kanan, ada yang cantik atau ganteng dan ada yang lagi baca ... hee #canda dink.
Dan nggak cuma manusia, bahkan hewan seperti ayam pun juga ada jodohnya. Tapi soal jodoh berjodohnya manusia, beda dengan hewan. Tanya kenapa? coz manusia beda ama ayam sob. Si ayam, ketemu dan bisa main patuk aja. Kalau manusia, ya kudu ada etika dan aturannya laahhhh. Tanya kenapa? yah masak situ disamain ama ayam? hee....
Asli, pacaran hanya akan membuat hidup kamu tambah ribet.  salah dikit, ribut panjangnya ampe bumi ke planet pluto masih tambah 3 meter, belon lagi kalau si pacar minta ini ama itu... duh, jangan main api deh makanya ntar kebakar sakit loh.

Sekali lagi ya sob, hidup emang kudu pake aturan. Dan sebaik- baik aturan, adalah aturan Allah Subhanahu Wata'ala. Cekidot nich, "Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk,” (al-Israa’: 32)

Ingat juga ya pesen Rasulullah SAW yang mulia Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Tiga jenis orang yang Allah tidak mengajak berbicara pada hari kiamat, tidak mensucikan mereka, tidak melihat kepada mereka, dan bagi mereka adzab yang pedih: Orang yang berzina, penguasa yang pendusta, dan orang miskin yang sombong,” (HR. Muslim).

Wah, berat bener kan resiko zina? (baca: pacaran). So, kalau udah tau gituh, yakin nich masih milih kegiatan itu sebagai ajang ketemu soulmate?

Jodoh atau soulmate itu tinggal kita jemput, sob. Tapi, ngemenk- ngemenk soal jemput- menjemput nich, yang begituan mah gampang, sob. Yang jadi masalah, kamu udah siap belon dengan kehidupan rumah tangga? kalo kamu bilang nggak mau mikir seberat itu, ya nggak bisa dunk. Yang namanya jodoh udah 11 12 ama pernikahan. Jodoh beda dengan pacar dan aktivitas  "studi banding" yang lain. soalnya yang ini area halal, dan kudu pake aturan.

Gimana sob, masih galau juga? hee..

Gini deh, semua di bawah langit tuh udah diatur waktunya, sob. begitu juga dengan datangnya jodoh kita. Ibarat kata siang hari, yang keluar ya matahari. Kalau kamu maksa si bulan nongol, ampe ikan lele kulitnya pink juga nggak bakal bisa. Kalo jodoh kamu belum waktunya sampe, ya nggak bakalan bisa atuh. Tapi nggak perlu menebak- nebak siapa yang bakal jadi jodoh kamu, dengan mencari tahu via pacaran. Lagian  siapa yang bisa menjamin kamu nggak bakalan ngapa-ngapain?.

Kita disini bukan lagi menghujat mereka yang lagi pada usaha nyari pasangan hidup. Cuma mau discuss bareng- bareng plus perenungan bersama, kalau jatuh cinta itu juga ternyata kudu mikir, cari jodoh juga nggak bisa ngasal. Biar akhirnya happy ending dan nggak sekedar dapat. Dan dapat deh yang namanya pasangan sejati. Dan ngomong-ngomong soal itu sob, kita punya rencana tentang siapa dan gimana jodoh kita. Tapi Allah pasti juga punya rencana, dan rencana Allah pasti lebih indah dari pada rencana manusia. So, serahkan sama Allah yang maha mengatur yang ngerti yang paling baik buat kita. Jadi mulai sekarang, jangan bergalau ria lagi ya. Fokuskan diri ada hal- hal yang lebih penting buat dilakuin, mumpung kita masih muda. Hidup kan nggak melulu masalah gebetan, iya nggak? jadi Sante aja sob, jodohmu nggak akan ketukar.
(NayMa/voa-islam.com)

"Mereka Panggil Gue Teroris"


Ini pertanyaan dari seorang anak muda kaya' gue yang masih ngerasa penasaran banget dan masih minim ilmu. "Gue pengen tahu kenapa sih orang islam kudu disebut teroris?". Kesannya kejam, sadis abies dan sangar gitu. belum lagi sederet kisah yang disuguhkan di tivi, yang ratingnya bisa lebih tinggi dari sinetron tontonan emak- emak. Dalam bayangan gue, teroris tuh bawa senjata laras panjang, badannya berotot, suka ngerampok dan ngebajak pesawat, persis kaya' di film- film barat.  Tapi akhirnya gue shock dan nambah penasaran banget, saat ternyata seorang ustadz yang udah sepuh ditangkap dan ditampilkan ditivi, terus dijuluki sang teroris.

Yang lebih hebohnya,  sikap pak ustadz yang tetep tenang, cool dan santai banget. Ini justru kebalikan 180 derajat sama pengawal yang menangkap beliau. Mereka pakai baju dan senjata super lengkap. Kalau gue bilang sih lebay!!. secara gitu, si ustadz sudah sepuh, apa iya bakal ngelawan dengan segitunya. Biar kelihatan sangar kali ye.. heee....

Sikap pak ustadz ini yang akhirnya mancing rasa penasaran gue lagi. Kalau maling ketangkap, biasanya pada nunduk dan ekspresinya nggak asyik. Tapi yang gue lihat waktu itu, beliau tetap adem ayem damai sentosa.  Ada dua hal yang lalu mampir dipikiran gue. Beliau santai karena yang dilakukan adalah benar atau malah super benar, jadi pun kalau kena fitnah, kebenaran tetaplah kebenaran. Atau hal yang kedua adalah beliau hanya sekedar merasa benar atau dengan kata lain kebenaran versi belliau sendiri, sampai akhirnya beliau kudu ditangkap.

Investigasi berlanjut. Dari mulai tivi, majalah, koran sampe internet gue ubek- ubek. Gue juga banyak tanya dan mengamati. Segitu penasarannya, kenapa sih islam identik dengan teroris. Dan kenapa ada orang yang bisa santai, dan ademm banget saat dihujat orang sedunia, dan kenapa ada orang yang begitu semangatnya memberitakan berita tentang mereka, dan menyebut mereka teroris.

Akhirnya guepun sampai pada kesimpulan bahwa cinta itu memang butuh pengorbanan.Siapapun mereka yang rela disebut teroris, ampe dianiaya seperti apapun, adalah karena saking cintanya sama Allah. Mereka menjalankan aturan Islam yang sebenar-benarnya. Dan sebutan teroris hanyalah fitnah yang disiarkan buat menmagkas langkah mereka. Cinta mereka sama Allah nggak setengah- setengah kaya' orang munafik dan yang memilih kesenangan dunia. Dan Allahpun sayang dengan mereka yang benar- benar berjuang. Mereka yang difitnah sebagai teroris, nggak cuma omdo tapi pake bukti dan tindakan. Walaupun yang mereka lakukan bakal beresiko berat terutama buat diri mereka sendiri. Tapi tetep bos, yang namanya kebenaran sampe H-2 kiamat tetep aja bakal jadi kebenaran, dan kebenaran itu mutlak buat disampaikan.
Mereka nggak sesadis yang digambarkan ditipi- tipi tuh. Karena Islam memang bukan tentang kekerasan. Justru yang gue heran, yang pada nangkepin bos, pake acara ngegebuk, kalau perlu membunuh!! nah lho jadi siapa yang pake kekerasan?
So,... gue sebagai anak muda yang kritis, tentu saja nggak akan melewatkan hal itu juga dong. Siapa yang nggak mau dapat kecintaan Allah dan memahami kebenaran. Disayang mak gue aja, seneng. Nah ini disayang sama yang nyiptain gue, yang punya bumi dan galaksi milyaran yang gue bahkan nggak bisa ngitung. Ya so pasti, kalau gue tolak, gue bodoh kelas berat. Gue akhirnya  milih belajar tentang islam yang sebenarnya. Bukan yang modifikasi, ataupun yang abal- abal.

Hasilnya, terbukti...

Teroris, juga disematkan didepan nama gue. Sama juga kaya' mereka yang lain. Kenapa? akhirnya gue tahu alasannya. Karena gue belajar islam dengan SEUTUHNYA, dan coba mempraktekkan paling nggak ke diri gue sendiri. Jangan tanya siapa ngasih label begitu? yang pasti orang-orang yang nggak suka dengan islam. Tapi yang gue heran, justru banyak orang islam sendiri yang melakukan. #ralat, maksudnya orang islam tapi munafik. Tapi itu nggak masalah, semua  pasti tahu lah, dimana ada surga pasti ada neraka. dimana ada orang pengen baik, pasti bakal ada yang ngerecokin.

Gue emang masih muda. tapi belum tentu gue NGGAK bakal mati besok, atau hari ini. Hanya Allah yang tahu juga kan?. Nah karena itulah gue nggak mau hidup yang sekalinya ini,  gue setengah- setengah dalam belajar. Selain itu karena gue bukan pengecut yang cuma bisa diem kaya' setan bisu yang menyembunyikan kebenaran. gue juga bukan orang yang ahli bertengkar sama hati gue yang selalu mengajak di kebenaran. Gue merasa beruntung karena kebenaran yang gue pilih, bukan versi manusia, bukan buatan manusia, dan hasil pikiran manusia. melainkan langsung dari Allah yang menciptakan kita, termasuk kamu yang lagi baca.

So, buat siapapun kamu di luar sana, jangan pernah takut ketika kamu dilabeli apapun saat pengen jadi lebih baik. Dan hanya islam yang bakal menuntun kamu jadi lebih baik #maksud gue islam versi original, bukan yang KW.  Jangan mudah galau sama hujatan, makian ataupun cobaan yang bakal kamu dapat dari manusia disekeliling kamu. Emang kamu hidup bakal ngasih tanggung jawab ke meraka. nggak lah!! entar kita sendiri- sendiri menghadap Allah, dan bakal ditanyain sendiri juga sama Allah. yang dulunya belain dan melindungi kamu di dunia, nggak bakalan bisa lagi ngebela kamu diakherat. semua bakalan kamu tanggung sendiri, baik ataupun buruk kamu yang bakal nanggung sendiri. Dan asal kamu tahu aja, orang yang membenci kamu, memusuhi dan bahkan menyiksa kamu, seharusnya dialah orang yang bener- bener rugi. Kalau memang dia sebenarnya baik, dia akan ngerasa sedih karena kudu bertarung sama batinnya sendiri saat memusuhi kamu. Kalau memang dia jahat, sesungguhnya Allah sudah menggunci mati hati nuraninya dari memahami nilai kebenaran islam. Hey, adakah orang yang pantas dikasihani selain mereka?

So, mumpung masih muda, yuk kita belajar  jadi pemimpin yang baik atas diri sendiri, yang bakal ngantar diri kita sendiri kelak ditempat yang nyaman yaitu surga. kritislah dengan apa yang terjadi disekeliling kita, dan pandai- pandailah dalam membuat pilihan dan pemikiran. Nggak ada yang gratis bos, semua kisah di dunia bakal ada endingnya, semua perbuatan bakal ada pertanggungan jawabnya. Saatnya memilih tentang siapa dan bagaimana jati diri kamu, sekarang! 
(NayMa/voa-islam.com)

Temen Yang Begini Nich, Kudu Kita Jauhin VOA-teen

    


Temen adalah bagian dari hidup kita. Selain bisa sharing tentang banyak hal, temen juga buat  hidup jadi tambah asik banget. Tapi Rasulullah pernah bersabda "Teman yang baik dan teman yang tidak baik itu diumpamakan seperti pembawa kasturi dan peniup api, maka si pembawa kasturi mungkin memberikan kasturi itu kepada kamu atau kamu dapat membelinya, atau kamu dapat mencium baunya yang wangi. Bagaimanapun peniup api mungkin membakar pakaianmu atau kamu dapat mencium baunya yang busuk."[Hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim]. Jadi Itu artinya dengan siapapun kita berteman, ya kudu ngebawa efek baik buat teman kita, dan bukan malah sebaliknya. So, temen yang kaya' gimana sih yang harusnya kita hindari?, salah satunya adalah yang kaya'dibawah ini,

Teman tapi setan
Pasti udah pada baca biografinya setan kan? intinya dia pasti bakal ngajak siapapun ke jalan yang salah. Contoh, saat kamu lagi asyik ibadah, dia malah ngajak kamu nongkrong sambil suit suit cewek.  atau saat kamu mau belajar dia malah ngajak main game, dan minta traktir pula. apalagi saat malming kamu yang jomblo malah dipaksa nungguin dia yang lagi pacaran # mimisan. Jelas-jelas species yang begini hanya akan menyesatkan kamu dari jalan Allah.  Parahnya, kalo setan dari golongan jin baru bisa ilang waktu dibacain ayat Kursi, nah kalo yang ini cuma bakal ilang kalo ditimpuk kursi , hee... makanya jangan ragu-ragu buat jauh-jauh dari temen yang begini yah.

Gampang ngeluh

Kenapa sih aku nggak ganteng?
kenapa sih alisku rata?
Kenapa sih mukaku Sixpack?
Kenapa sih kumis cowokku lebih panjang dari kumisku..???

Hadee.. capek nggak sih dengerin orang yang ngeluuh aja tiap hari? jawabnya pasti iya. gimana nggak, karena  orang ngeluh identik dengan nggak bersyukur. Padahal Allah aja udah berfirman di Alquran "Maka nikmat TUHAN-mu yang manakah lagi yang akan kau dustakan?" (QS. Ar Rahman ayat 13). Itu artinya nikmat Allah tuch nggak ketulungan banyaknya. Kalo aja nich kamu kumpulin satu desa, trus di itung pake jari mereka semua, dijamin juga masih kurang. Karena itulah ngeluh nggak bakalan nyelesaikan apapun kecuali malah makin buat ruwet apapun. Apalagi kalo ngeluh disiarkan secara live dari FB atau twitter kamu. bisa-bisa aib yang udah baik-baik ditutupin sama Allah, malah kebuka dan jadi omongan orang. Jadi makin ribet kan?

Orang yang suka ngeluh juga susah buat move on. Secara mereka sebenarnya menikmati kesusahan dan nggak mau susah mikir tentang jalan keluarnya.  Ya emang sih, yang namanya manusia punya limit alias batas dalam apapun. tapi sekali lagi, mengeluh bukan jalan yang asyik buat nyelesaikan masalah, malah akan menjauhkan temen-temen dari kita.  jadi tambah masalah kan?. Jadi temen yang punya kebiasaan suka banget ngeluh ini otomatis kudu kita jauhin juga biar kita nggak jadi ikut-ikutan negatif.

Datang nggak diundang, pergi suruh nganter

Konsep berteman itu harusnya saling berbagi. Jadi kita pun kudu belajar ringan tangan alias banyak bantu sob. Kita juga harus pintar- pintar nyari temen yang bisa ngajarin kita tentang berbagi.  dengan kata lain, hindari temen yang egois, yang datang nggak diundang, pergi suruh nganter, atau mampir ke kita cuma kalo lagi moodnya gak bagus, gundah gulana, resah, puyeng, kelaperan, pokoknya yang lagi butuh dihibur banget. Lama-lama penyakit kaya' gini juga bakalan mampir ke kita juga, dan ngebuat kita makin nggak dewasa.

Tukang gosip amatir
biasanya emang paling adem kalo udah curhat sama temen, pas kita lagi ada masalah. Tapi akan tambah bermasalah saat ternyata temen kita itu nggak amanah alias malah cerita-cerita kemana-n/mana tentang curhatan kita itu. pasti bakalan BT level akut. # ngikir taring
(NayMa/voa-islam.com)

"Karena Kita Beda"




Mereka bilang "Santai dulu lah..."
Aku berkata "Kenapa tidak sekarang?"
Mereka menunduk, dan menangis "Tak ada lagi harapan",
Aku akan berdiri dan berkata  "Ayolah, pasti ada jalan keluar!"
Mereka berkata "Sudahlah, cukup!"
Aku akan bilang" Apalagi yang harus aku kerjakan"
Mereka iri " Dia memang ahli, karena itulah dia menjadi juara"
Aku akan menjawab "Kalau mereka bisa, kenapa kita tidak?"

Mereka berkoar-koar "Aku akan sukses suatu hari"
Aku akan bertindak "Lakukan sesuatu, dan suksesku akan kuraih mulai hari ini"
Mereka bermimpi "Aku akan membahagiakan diriku sendiri"
Aku akan bermimpi "Aku akan membahagiakan orang- orang yang menyayangiku, sekaligus yang membenciku"
Mereka berpendapat "Kalau menjadi tinggi itu takdir"
Aku akan menjawab "Apakah kita hanya akan menunggu takdir? ikhtiyar semaksimal mungkin mulai sekarang."
Mereka mengeluh "Susahnyaa..."
Aku akan berkata "Allah pasti membantu hambanya yang mau berusaha"
Mereka pesimis "Bagaimana kalau nanti akhirnya..."
Aku akan optimis "Bagaimana akhirnya itu bagian Allah, bagian kita adalah memulai awalnya, dengan baik tentunya"

Mereka menangis "Sakit sekali rasanya"
Aku akan tersenyum, "Alhamdulillah, semoga dengan ini dosaku terampuni"
Mereka berandai, "Bagaimana jika nanti,..."
Aku akan realistis "Jangan pengecut menghadapi resiko. Selesaikan!"
Mereka memaki "*****, kenapa aku selalu diprotes!"
Aku akan senyum dan berkata "Inshaallah akan aku perbaiki kesalahan ini, agar tidak diprotes lagi"
Mereka menyumpahi "Kenapa Allah tidak sayang kepadaku"
Aku akan berucap "Alhamdulillah Allah sudah menegurku"
 
Mereka hanya merayu "Aku mencintamu Ya Allah"
Aku akan bertindak  kemudian berkata "Inilah bukti cintaku padamu Ya Allah"
Mereka menghujat "Dimana Allah saat kita menderita?!?"
Aku akan memohon "Temani aku ya Allah, aku akan selesaikan ini, agar aku tidak lagi menderita"
Mereka bertanya, "Apakah mungkin kita masuk surga?"
Aku akan bertanya "Terangkan kepadaku apa yang bisa aku lakukan agar aku bisa masuk surga?"
Mereka ingin "Marilah kita menjadi penonton saja"
Aku ingin "Ayolah kita ikut serta"
Mereka berkata "Ikuti sajalah yang sudah ada,..."
Aku akan jawab "Aku ingin yang sesuatu yang lain, yang lebih unik tentunya"
Mereka berkata "Dengarkan saja"
Aku akan bertanya "Mengapa begini, dan mengapa bisa begitu"
Mereka berkata "Samakan! agar tidak dikenali"
Aku berkata "Bedakan!, agar mudah dikenali"
Mereka berkata "Aku lelah"
Aku berkata "Aku masih kuat"
Sob, kita adalah beda, karena kita masih muda. Kita memiliki semangat, visi, waktu dan cita- cita yang InshaAllah masih panjang. Dan setiap hari adalah tentang harapan dan perjuangan kita, maka jangan sampai tertinggal dengan waktu. Karena waktu tidak akan menunggu kita yang malas, dan hanya sekedar ngomong doang. Do something!! karena seorang pemenang bukanlah mereka yang hanya diberi bakat untuk menang, tapi pemenang sejati adalah mereka yang mau berusaha untuk menjadi yang terbaik, bahkan saat semua orang menyepelekan kemampuannya. Hare gene nggak jamannya lagi yang muda yang galau, sob. Atau kamu akan tersingkir dan nggak kebagian peran.
Kita yang muda, yang akan membuat perubahan. Dan Islam, adalah sebaik- baik pembawa perubahan. Tanpa islam, dunia akan kembali ke jaman jahiliyah, jaman kuno, jaman yang nggak asyik lagi pastinya. Kita yang muda, yang akan membawa nilai islam yang sebenarnya, karena kita adalah pelaku perubahan. Lalu sudah siapkah kamu untuk memulai itu, paling nggak dari diri sendiri dulu?
(NayMa/voa-islam.com)

Katanya Muslimah Neng, Kok nggak pake jilbab? VOA-teen




Cewek... cewek.. cewek...
Bersyukurnya kita jadi seorang cewek. Makhluk yang pastinya indah dan cantik banget. Nggak ada kita, dunia dipastikan nggak seru dan nggak asyik lagi. Seperti kamu tahu, cewek dalam aturan islam sangat dihormati banget. Dia diwajibkan pakai kerudung dan jilbab. Bukan apa- apa, tapi semua demi kehormatan tuh cewek sendiri.
Tapi satu pertanyaan yang kita heran, kenapa banyak dari para cewek yang nggak mau pake kerudung dan berjilbab rapi, nutup aurat biar nggak jadi sasaran mata jalang. Anehnya mereka ini juga ngaku islam loh, cek aja di KTPnya.

Alasannya pertama, katanya belum siap.
Girls, Jilbab dan kerudung adalah justru buat ngelindungin kita. Kalau kamu beralasan belum siap mengenakan keduanya, sama aja kamu SUDAH SIAP untuk dilecehkan dan jadi pandangan gratis laki- laki manapun. Gimana nggak, mereka juga manusia lah, yang punya nafsu atas kamu. Apalagi kamu indah dan cantik gitu, hey kenapa nggak coba menghargai diri sendiri lebih mahal ?

Alasan yang kedua biasanya jilbab dan kerudung itu mengekang.
Heee... katanya gaul, tapi kok pemikiran sempit sih. Hare gene, jilbab dan kerudung bukan alasan lagi buat kamu nggak bisa ngapa- ngapain. Justru saat kamu nggak buru- buru make, kamu akan banyak keganggu, was-was dan nggak nyaman. Jadilah kamu akhirnya nggak bisa ngapa-ngapain.

Alasan ketiga, jilbab dan kerudung buat kamu nggak eksis dan nggak bebas.
Hmmm.. ketahuan kan, orang yang mengatakan kalimat ini adalah mereka yang jadi follower hawa nafsu. Karena memang sebenarnya jilbab dan kerudung adalah pengingat saat kita mau maksiat. Nah, cewek yang katanya muslimah tapi nggak mau pake kerudung, sebenarnya cuma mau sekedar bebas ngelakuin maksiat. #hayo ngaku!!??!! jilbab dan kerudung adalah untuk kebaikan. Dan bukankah kebaikan adalah baik dan membaikkan kita??

Alasan keempat, pengen hatinya dulu yang berjilbab baru badannya
Mereka bisanya beralibi dengan banyaknya muslimah yang sudah mengenakan kerudung dan jilbab namun masih minus. Girls, tunjuk deh satu orang di dunia ini, siapa sih yang sempurna? nggak bakal ada. Termasuk juga kita. Mengenakan Jilbab dan kerudung adalah justru langkah awal dari kita buat melakukan perbaikan, walaupun nggak bakal pernah bisa sempurna. Fokus ke perbaikan diri kita aja, dan jangan mengalihkan masalah justru ke siapapun. Masalahmu akan kamu pertanggung jawabkan sendiri dihadapan Allah dan merekapun begitu. So, lupakan alasan dan segera mulai perbaikan
Dan masih akan banyak lagi alasan yang lainnya...
So, kalau kamu beli baju atau apapun, paling asyik memang kudu ditawar girls, tapi nggak buat aturan yang ditetapkan oleh Allah, yang pastinya konstan banget.
Allah SWT berfirman yang artinya, ”Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min,’Hendaklah mereka mengulurkan jilbab-jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". (QS Al-Ahzab : 59)
Dan dalam surat An-Nur ayat 31 yang artinya, "Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya…”
Hidup cuma sekali girls, dan kita kudu all out dalam melakukan sesuatu, jangan setengah- setengah. Seperti halnya saat kita mengaku muslimah, tapi kok nggak bangga dengan ciri khas seorang muslimah. Saatnya memilih dan menentukan jati diri kamu.
(NayMa/voa-islam.com)

Bukti


Manusia selalu mencari sebab-sebab dari setiap kejadian yang disaksikannya. Dia tidak pernah menganggap bahwa sesuatu mungkin terwujud dengan sendirinya secara kebetulan saja, tanpa sebab. Seorang sopir yang mobilnya mogok akan turun dari kendaraannya dan memeriksa kemungkinan sebab-sebab mogoknya mobil itu. Tidak akan pernah terpikir olehnya bahwa mobilnya akan bisa mogok manakala segala sesuatu berada dalam kondisi yang prima. Untuk membuat mobilnya bisa berjalan lagi, dia akan menggunakan cara apa pun yang bisa dilakukannya. Dia tidak akan pernah duduk-duduk saja menunggu mobilnya bisa berjalan lagi.


Jika seseorang merasa lapar, dia akan berpikir tentang makanan. Jika dia haus, dia akan memikirkan air. Jika dia kedinginan, dia akan mengenakan pakaian tambahan atau menyalakan api. Dia tidak akan pernah duduk-duduk saja sambil meyakinkan dirinya bahwa suatu kebetulan akan menyelesaikan masalahnya. Seseorang yang ingin mendirikan bangunan, meminta jasa seorang arsitek, dan para pekerja bangunan. Dia tidak akan pernah berharap bahwa keinginannya terlaksana dengan sendirinya.
Bersama dengan maujudnya manusia, gunung-gunung, hutan-hutan, dan lautan-lautan yang luas juga telah ada bersamanya. Dia selamanya telah melihat matahari, bulan, dan bintang bergerak dengan teratur dan terus-menerus melintasi langit.


Meski demikian, orang-orang yang berilmu di dunia, tanpa mengenal lelah, telah mencari sebab-sebab wujud-wujud dan fenomena-fenomena yang menakjubkan itu. Tidak pernah mereka mengatakan: “Selama kita hidup, kita telah menyaksikan benda-benda langit tersebut dalam bentuknya seperti yang sekarang ini. Karena itu, tentu mereka terwujud dengan sendirinya.”
Hasrat ingin tahu dan ketertarikan yang bersifat instinktif terhadap sebab-sebab ini memaksa kita menyelidiki bagaimana benda-benda di alam ini muncul, dan menyelidiki ketertibannya yang mengagumkan. Kita dipaksa untuk bertanya “ Apakah alam semesta ini, dengan seluruh bagiannya yang saling berkaitan yang benar-benar membentuk satu kesatuan sistem yang besar itu, terwujud dengan sendirinya, ataukah ia memperoleh wujudnya dari sesuatu yang lain?”


Apakah sistem mengagumkan yang berlaku di seluruh alam semesta ini, yang diatur oleh hukum-hukum abadi tanpa kekecualian dan yang membimbing segala sesuatu menuju tujuannya yang unik, dikendalikan oleh suatu kekuasaan dan pengetahuan yang tak terbatas, ataukah ia muncul secara kebetulan saja?
Jawaban terhadap pertanyaan ini positif, artinya ke manapun manusia melihat di seluruh penjuru semesta ini, ia akan melihat bukti-bukti yang melimpah akan adanya satu Pencipta dan Kekuatan Pemelihara, sebab manusia melihat bahwa setiap ciptaan itu menikmati anugerah-anugerah wujud dan secara otomatis bergerak mengikuti jalan yang tertentu, akhirnya lenyap dan digantikan makhluk yang lain. Makhluk-makhluk ini tidak pernah mewujudkan dirinya sendiri, menciptakan arah perkembangannya sendiri, ataupun memainkan peran sekecil apa pun dalam menciptakan atau atau mengorganisasi eksistensi mereka.


Bersama dengan maujudnya manusia, gunung-gunung, hutan-hutan, dan lautan-lautan yang luas juga telah ada bersamanya. Dia selamanya telah melihat matahari, bulan, dan bintang bergerak dengan teratur dan terus-menerus melintasi langit.
Meski demikian, orang-orang yang berilmu di dunia, tanpa mengenal lelah, telah mencari sebab-sebab wujud-wujud dan fenomena-fenomena yang menakjubkan itu. Tidak pernah mereka mengatakan: “Selama kita hidup, kita telah menyaksikan benda-benda langit tersebut dalam bentuknya seperti yang sekarang ini. Karena itu, tentu mereka terwujud dengan sendirinya.”


Hasrat ingin tahu dan ketertarikan yang bersifat instinktif terhadap sebab-sebab ini memaksa kita menyelidiki bagaimana benda-benda di alam ini muncul, dan menyelidiki ketertibannya yang mengagumkan. Kita dipaksa untuk bertanya “ Apakah alam semesta ini, dengan seluruh bagiannya yang saling berkaitan yang benar-benar membentuk satu kesatuan sistem yang besar itu, terwujud dengan sendirinya, ataukah ia memperoleh wujudnya dari sesuatu yang lain?”

Apakah sistem mengagumkan yang berlaku di seluruh alam semesta ini, yang diatur oleh hukum-hukum abadi tanpa kekecualian dan yang membimbing segala sesuatu menuju tujuannya yang unik, dikendalikan oleh suatu kekuasaan dan pengetahuan yang tak terbatas, ataukah ia muncul secara kebetulan saja?

Jawaban terhadap pertanyaan ini positif, artinya ke manapun manusia melihat di seluruh penjuru semesta ini, ia akan melihat bukti-bukti yang melimpah akan adanya satu Pencipta dan Kekuatan Pemelihara, sebab manusia melihat bahwa setiap ciptaan itu menikmati anugerah-anugerah wujud dan secara otomatis bergerak mengikuti jalan yang tertentu, akhirnya lenyap dan digantikan makhluk yang lain. Makhluk-makhluk ini tidak pernah mewujudkan dirinya sendiri, menciptakan arah perkembangannya sendiri, ataupun memainkan peran sekecil apa pun dalam menciptakan atau mengorganisasi eksistensi mereka.

Kita sendiri tidak memilih kemanusiaan kita atau karakteristik-karakteristik manusiawi kita; kita diciptakan sebagai manusia dan diberi karakteristik-karakteristik kemanusiaan tersebut. Sama halnya, akal kita tidak akan pernah bisa menerima bahwa semua wujud yang ada di alam semesta ini terwujud secara kebetulan saja, dan bahwa sistem wujud itu muncul begitu saja. Akal kita tidak bisa menerima bahwa sejumlah potongan batu bata telah berkumpul bersama-sama secara kebetulan dan dengan sendirinya untuk membentuk sebuah rumah.   Jadi realisme instinktif manusia menyatakan bahwa alam wujud pastilah memiliki satu penopang yang merupakan Sumber wujud  dan Pencipta serta Pemelihara alam semesta, dan bahwa Wujud serta Sumber kekuasaan dan pengetahuan yang tak terbatas ini adalah Tuhan, sumber segala wujud dalam sistem eksistensi.

Menurut teori peluang, sebagai contoh, bila kita mengocok huruf yang tertulis dalam kertas masing-masing bertuliskan A, B, C hingga Z (ada 26 huruf). Kemudian kita ambil satu demi satu dan diletakkan di atas meja berurutan. Maka peluang kemunculan huruf-huruf tersebut berurutan ABCDEFGHIJKLMNOPQRSTUVWXYZ adalah kurang dari 0,0000000000000000000000000025 atau kurang dari seperempatratus trilyun trilyun.

Dalam tubuh manusia (70 kg) terdapat sekitar 7 trilyun trilyun trilyun atom (99%nya adalah Hidrogen, Oksigen dan Karbon).  Bisakah kita bayangkan betapa kecil kemungkinan 7 trilyun trilyun trilyun atom ini membentuk, menyusun, berinteraksi dengan sangat kompleks secara “kebetulan” sehingga seorang manusia mewujud di dunia dengan kelengkapan sistem kehidupannyanya ?

Bagaimana pula dengan masyarakat manusia yang terdiri atas milyaran manusia dan tak terhitung spesies-spesies tumbuhan dan hewan baik di daratan maupun di lautan yang tertata rapi membentuk rantai-rantai ekosistem dan berbagai keteraturan dan kesalingterkaitan?

Bagaimana pula dengan planet bumi yang terdiri atas trilyun trilyun trilyun ….. atom yang tertata sedemikian rapi dengan pergantian musimnya, hukum-hukum geologis, hukum-hukum meteorologi, siklus air, keteraturan arus-arus lautan, dan tak terhitung keteraturan-keteraturan lain?

Bagaimana pula dengan posisi bumi di tatanan tata surya, yang “melayang-layang” tanpa tiang bersama planet-planet lain; dan mengikuti berbagai aturan yang bahkan terukur dengan sangat nyata seperti hukum Keppler? Dengan posisi rotasi yang memungkinkan siklus empat musim? Bagaimana pula tata surya sebagai satu dari 100 milyar bintang yang berputar-putar mengitari pusat galaksi bima sakti?

Jadi realisme instinktif manusia menyatakan bahwa alam wujud pastilah memiliki satu penopang yang merupakan Sumber wujud  dan Pencipta serta Pemelihara alam semesta, dan bahwa Wujud serta Sumber kekuasaan dan pengetahuan yang tak terbatas ini adalah Tuhan, sumber segala wujud dalam sistem eksistensi.

Allah SWT berfirman:
“Dia (Musa) berkata,’ Tuhan kami ialahyang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk.’“ (QS 20(THO HA): 50)

“Sucikanlah Nama Tuhan-mu Yang Maha Tinggi,Yang Menciptakan, dan Menyempurnakan,
Dan yang Menentukan Kadar (masing-masing ) dan Memberi Petunjuk,” (QS 87(AL-A’LA): 1–3)
[Islam-Indonesia/filsafatislam.net]

Tingkat Manusia Sehubungan Wahdah al-Wujud


Oleh: Haidar Bagir
Dalam hubungan dengan pemahaman atas prinsip ketunggalan wujud, para pemikir faham ini—diwakili oleh Sayid Haidar ‘Amuli—biasa membagi manusia dalam hal kemajuannya di dalam perjalanan ruhaniah ke dalam tiga kelompok.


Kelompok pertama adalah orang-orang kebanyakan (awam). Termasuk di dalamnya adalah orang-orang yang hanya menggunakan akalnya saja (dzaw al-‘aql). Yang paling rendah adalah orang-orang yang tak bisa melihat sesuatu yang lain kecuali dunia kasat mata ini. Bagi mereka, tak ada sesuatu di baliknya. Masih dalam kelompok orang awam ini, terdapat sekelompok orang yang bisa melihat bahwa di balik dunia fenomenal yang kasat mata ini sesungguhnya ada Sesuatu Zat Yang Mutlak, disebut Tuhan. Tapi, bagi kelompok ini, Tuhan tampil sebagai Zat Yang (semata-mata) Transenden atau ter­pisah dari ciptaan-ciptaan-Nya. Dalam pandangan ini, tak ada hubungan lain antara Tuhan dan ciptaannya kecuali hubungan ekster­nal seperti penciptaan dan dominasi Allah atas ciptaan-ciptaan-Nya. Mereka inilah “manusia-manusia lahir” (ahl al-zhâhir).

Kelompok kedua, yang sudah lebih tinggi maqâm-nya dalam perjalanan ruhaniah ini (khawâshsh, yakni orang-orang yang telah menggunakan intuisi-mistikal­nya, atau dzaw al-‘ain), telah berhasil mencapai tingkat fanâ’—yakni kesirnaan-diri di dalam Allah Swt. Bersama dengan itu, mereka pun tak lagi menampak alam se­mesta ini. Di “mata” mereka, yang ada hanya Allah. Tak ada diri mereka, tak ada pula ciptaan-ciptaan-Nya yang lain. Yang mereka lihat hanya “ke-Tunggal-an”, hanya Allah. Namun, ketika orang-orang ini kembali dari ke-fanâ’-annya—karena fanâ’ adalah satu di antara ber­­bagai keadaan ruhaniah (ahwâl ) yang bersifat se­men­tara saja—maka mereka kembali melihat kejamak­an (mul­­­tisiplisitas) ciptaan-ciptaan-Nya. Hanya, kali ini me­­reka melihat segala kejamakan ini sebagai ilusi, atau maya. Dalam pandangan mereka, dunia feno­menal itu tak memiliki nilai ontologis (kewujudan) karena sejati­nya kesemuanya itu tak real. Objek-objek eksternal itu sesungguhnya tak “wujud” dalam makna-sejati kata itu.

Tapi, di mata kelompok ketiga (filosof-sufi dari maqâm tertinggi), pandangan kelompok kedua ini tak sepenuhnya benar. Dunia eksternal ciptaan-ciptaan ini sesungguhnya benar-benar ada. Bahkan, ketika mereka mengalami “peng­lihatan” (visiun) akan Allah, mereka sebenarnya meli­hat itu sebagai terpantul dalam ciptaan-ciptaan-Nya. Hanya saja, sebagian orang dalam kelompok ketiga, yang belum lagi mencapai puncak perjalanan, silau oleh sinar kemilau tak terkira (yang bersumber dari) Allah, sehingga mereka kehilangan kemampuan untuk melihat ciptaan-ciptaan yang memantulkan-Nya itu.

Jika bagi kelompok pertama – yang melihat Tuhan dalam berbagai ciptaan di alam semesta -- Sang Mutlak bertindak sebagai cermin-mengkilat yang di dalamnya ciptaan-ciptaan-Nya terpantulkan, maka bagi kelompok kedua segala-sesuatu yang selain Allah itulah yang memantul­kan Sang Mutlak. Dalam kedua hal itu, orang biasanya hanya melihat bayangan-bayangan yang dipantulkan dalam cermin itu, sementara cermin itu sendiri tak tampak.

Dalam pandangan kelompok ketiga yang telah ma­suk ke dalam yang elite dari para elite (khawwâsh al-khawwâsh atau orang-orang yang menggunakan akal dan intuisinya, dzaw al-‘aql wa al-‘ain) ini, hubungan antara Allah dan ciptaan-Nya mengambil bentuk ke-Tunggal-an dalam kejamakan. Orang-orang yang te­lah meng­alami “tinggal-tetap” (baqa) dalam Allah ini mampu melihat Allah dalam ciptaan-Nya dan ciptaan-Nya dalam Allah. Mereka dapat melihat, baik cermin maupun bayangan-bayangan yang terpantul di dalam­nya. Dengan kata lain, Allah dan ciptaan-Nya secara bergantian bertindak sebagai cermin dan bayangan. (Satu-satunya) “wujud”—dalam hal ini harus ditulis se­bagai “Wujud”—adalah sekaligus Allah dan ciptaan-Nya, Sang Mutlak dan dunia fenomenal (inderawi), serta ke-Tunggal-an dan kejamakan (unitas dan multiplisitas). Peng­lihat­­an akan hal-hal fenomenal tidak menghalangi mereka dari melihat ke-Tunggal-an murni dari Hakikat pun­cak. Tak pula penglihatan akan yang Tunggal meng­halangi mereka dari menangkap kejamakan.

Sebalik­nya, keduanya melengkapi satu sama lain da­lam meng­ungkapkan struktur Hakikat yang sebenarnya. Karena keduanya adalah dua aspek dari Hakikat yang sama. Ke-Tunggal-an menampilkan aspek “kemutlak­an” (ithlâq), sementara kejamakan menampilkan aspek “per­luasan konkret” (perluasan dalam bentuk-bentuk kasat mata atau tafshîl ) (dari Yang Mutlak itu). Orang-orang yang telah mencapai maqâm ini disebut juga sebagai “yang memiliki dua mata (dzaw al-‘ainyin),” yang satu melihat ke-Tunggal-an dan yang lain melihat kejamakan. Proses pe­nampakan ke-Tunggal-an yang pada awalnya tak-ter­bedakan ke dalam berbagai bentuk ini biasa disebut sebagai “pengejawantahan-diri” atau “manifes­tasi-diri” (tajallî ) dari Sang Wujud (Allah).

Memisalkan hu­bungan ini dengan hubungan matahari dan sinarnya mungkin akan mem­bantu. Sinar matahari hanya ada bersama dengan ma­ta­hari, sebagai sumbernya. Selama ada mata­hari, sinar matahari ada. Sinar matahari juga tak pernah berada terpisah dari matahari itu sendiri. Tapi, sinar matahari tak sama dengan matahari itu sen­diri. Jadi, meski tak pernah terpisah, sinar matahari ber­­beda dengan mata­hari. [Islam-Indonesia]

Al-A'yan Al-Tsabitah


Oleh: Haidar Bagir
Seperti disebut dalam artikel sebelum ini (lihat disini), Tuhan bukan saja ada, tapi juga me­“nyadari” kemungkinan-ke­mung­kinan yang tak ter­batas mengenai pengung­kapannya sendiri. Kemungkinan-kemungkinan pengungkapan diri (tajalliyat) Allah inilah yang oleh Ibn Arabi disebut sebagai ”entitas-entitas permanen/tak berubah” (a’yan tsabitah). ”Entitas-entitas permanen/tak berubah” ini yang kemudian, yakni ketika Allah berfikir tentangnya, melahirkan maujud-maujud (a’yan mawjudah). Inilah penciptaan.


Disebut ”entitas-entitas permanen/tak berubah” karena sesungguhnya kesemuanya itu adalah pengetahuan-pengetahuan Allah yang sudah diketahui-Nya se-”belum” penciptaan, dan akan terus begitu se-”telah” penciptaan. Dia harus difahami demikian karena dia masih berada dalam tingkat hadhrah ilahiyah – persisnya hadhrah ‘ilmiyah, yang identik dengan martabat wahidiyah -- yang tidak mungkin mengalami perubahan. Seperti kata Ibn ‘Arabi, “ al-a’yan al-tsabitah tak pernah mencium aroma wujud (yakni, menjadi ciptaan,mawjud)”. Sebagai pengetahuan Tuhan, dia selalu ada dan tak pernah berubah. Sebagian orang menyebutnya arketip (archetype) meski, bagi sebagian yang lain, penyebutan ini tidak tepat. Memang entitas-entitas permanen ini bak ”model” ideal yang atas model itu segala sesuatu diwujudkan atau diciptakan (al-a’yan al-mawjudah) – berdasar “model-model” ideal tersebut. Hanya saja, tak seperti arketip, yang bisa menjadi model yang darinya bersumber banyak ”sesuatu”,  setiap entitas permanen menjadi model bagi satu ”sesuatu”. Misal, entitas permanen (yang memiliki seluruh ciri) pohon hanya menjadi model pohon saja. Dan seterusnya. Karena maknanya ini, entitas-entitas ini terkadang disebut sebagai haqa’iq al-asy-ya’ (haikat segala sesuatu) yang maujud (diwujudkan, yakni al-a’yan al-mawjudah)

Nah, pada gilirannya, segala sesuatu (ciptaan Tuhan) – yang merupakan perwujudan dari ”entitas-entitas permanen” ini – di alam fenomenal atau empiris (kosmos) menjadi tanda-tanda (Tuhan) yang, lewat perenungan atasnya, kita dapat ”menampak” (sebagian dari) ”aspek-aspek”Tuhan. Jadi, ada gerakan bolak-balik Tuhan à Kosmos (dari ”atas” ke ”bawah”) dan Kosmos à Tuhan (dari ”bawah” ke ”atas”). Yakni, Tuhan sebagai Wujud menemukan diri-Nya dan menghasilkan penciptaan, sementara Tuhan ditemukan dalam proses-mengetahui manusia melalui persepsi dan perenungan atas penampakan (mazh-har, locus) ”entitas-entitas permanen” yang mewujud ke dalam segala sesuatu yang menyusun kosmos.

Dingkapkan dengan cara lain, penampakan entitas-entitas ini, dalam berbagai intensitas, dapat (memiliki kesiapan, isti’dad untuk) menjadi wadah bagi nama-nama Tuhan. Sebagaimana diungkapkan dalam Firman-firman-Nya dalam Kitab Suci, Tuhan memiliki ”nama-nama yang indah” (al-asma’ al-husna). Setiap nama Tuhan sesungguhnya dapat  mewakili salah satu ”aspek”-Nya. Nah, ”aspek-aspek” Tuhan ini yang, satu atau lebih darinya, terkandung dalam ”sesuatu-sesuatu” (asy-ya’itu. Nama-nama tuhan yang indah ini disebut sebagai ”nama-nama universal”-Nya (al-asma al-kulliyat) sementara ”sesuatu-sesuatu” itu disebut sebagai ”nama-nama partikular (al-asma’ al-juz’iyat). Yakni, ”sesuatu-sesuatu” itu hanya bisa membawa sebagian ”aspek”-Nya. sementara ada ”sesuatu” yang hanya bisa membawa satu aspek-Nya, ada yang lebih. Batu, misalnya, secara pasif, dapat membawa aspek kemahakuasaan-Nya. Tanaman dapat membawa aspek-aspek kehidupan, pengetahuan, keinginan-Nya, dan sebagainya. Hewan mengungkapkan apa yang diungkap oleh tanaman dalam intensitas yang lebih besar. Dan seterusnya.

Dan, yang pada puncaknya, dapat mewakili ”aspek-aspek” Tuhan secara paripurna adalah manusia (mikrokosmos, al-’alam al-saghir, yang merupakan ”miniatur” dari makrokosmos, al-’alam al-kabir). Yakni, makin tinggi maqam spiritual manusia, makin intens ia dalam mewakili Tuhan. Mereka memiliki dalam diri mereka karakter-karakter (akhlaq) Tuhan. Dan yang dapat secara paripurna mewakili Tuhan adalah manusia-manusia sempurna (al-insan al-kamil), yakni Nabi Muhammad saaw. dan para wali (para teman) Tuhan yang seperti Muhammad saaw. Mereka inilah yang telah mencapai maqam tertinggi tanpa batas yang disebut sebagai maqam non-maqam. Inilah esensi keharusan mengikuti Nabi Muhammad dan para wali Tuhan. Karena dengan cara ini sesungguhnya kita dapat mengetahui Tuhan.
Tuhan mengetahui segala sesuatu (2: 231)
Tuhan meliputi segala sesuatu dalam Ilmu-(Nya)(65:12)
Niscaya Aku tunjukkan tanda-tanda Kami di ufuk-ufuk (kosmos) dan di dalam diri mereka (manusia) agar nyata bahwa dialah Al-Haqq (41:53)
Panggillah Allah atau panggillah Al-Rahman karena bagi Allah Nama-nama yang Indah .. dan katakanlah : segala puji bagi Allah, yang tidak mempunyai anak, tak pula sekutu dalam kerajaan-Nya. Dan Dia tak memerlukan penolong dari kehinaan/penghinaan, maka agungkanlah Dia dalam segenap keagungan (Al-Qur-an, 17 :110-111)
Berakhlaklah kamu dengan akhlak Tuhan (Hadis)
Sesungguhnya pada diri Rasul ada teladan yang baik (hasanah, berasal dari akar kata yang sama dengan husna). Yakni bagi orang-orang yang menginginkan Allah dan Hari Akhir, dan yang banyak mengingat-Nya (Al-Qur’an 33:21)
[Islam-Indonesia]