Saturday, 13 July 2013

Al-A'yan Al-Tsabitah


Oleh: Haidar Bagir
Seperti disebut dalam artikel sebelum ini (lihat disini), Tuhan bukan saja ada, tapi juga me­“nyadari” kemungkinan-ke­mung­kinan yang tak ter­batas mengenai pengung­kapannya sendiri. Kemungkinan-kemungkinan pengungkapan diri (tajalliyat) Allah inilah yang oleh Ibn Arabi disebut sebagai ”entitas-entitas permanen/tak berubah” (a’yan tsabitah). ”Entitas-entitas permanen/tak berubah” ini yang kemudian, yakni ketika Allah berfikir tentangnya, melahirkan maujud-maujud (a’yan mawjudah). Inilah penciptaan.


Disebut ”entitas-entitas permanen/tak berubah” karena sesungguhnya kesemuanya itu adalah pengetahuan-pengetahuan Allah yang sudah diketahui-Nya se-”belum” penciptaan, dan akan terus begitu se-”telah” penciptaan. Dia harus difahami demikian karena dia masih berada dalam tingkat hadhrah ilahiyah – persisnya hadhrah ‘ilmiyah, yang identik dengan martabat wahidiyah -- yang tidak mungkin mengalami perubahan. Seperti kata Ibn ‘Arabi, “ al-a’yan al-tsabitah tak pernah mencium aroma wujud (yakni, menjadi ciptaan,mawjud)”. Sebagai pengetahuan Tuhan, dia selalu ada dan tak pernah berubah. Sebagian orang menyebutnya arketip (archetype) meski, bagi sebagian yang lain, penyebutan ini tidak tepat. Memang entitas-entitas permanen ini bak ”model” ideal yang atas model itu segala sesuatu diwujudkan atau diciptakan (al-a’yan al-mawjudah) – berdasar “model-model” ideal tersebut. Hanya saja, tak seperti arketip, yang bisa menjadi model yang darinya bersumber banyak ”sesuatu”,  setiap entitas permanen menjadi model bagi satu ”sesuatu”. Misal, entitas permanen (yang memiliki seluruh ciri) pohon hanya menjadi model pohon saja. Dan seterusnya. Karena maknanya ini, entitas-entitas ini terkadang disebut sebagai haqa’iq al-asy-ya’ (haikat segala sesuatu) yang maujud (diwujudkan, yakni al-a’yan al-mawjudah)

Nah, pada gilirannya, segala sesuatu (ciptaan Tuhan) – yang merupakan perwujudan dari ”entitas-entitas permanen” ini – di alam fenomenal atau empiris (kosmos) menjadi tanda-tanda (Tuhan) yang, lewat perenungan atasnya, kita dapat ”menampak” (sebagian dari) ”aspek-aspek”Tuhan. Jadi, ada gerakan bolak-balik Tuhan à Kosmos (dari ”atas” ke ”bawah”) dan Kosmos à Tuhan (dari ”bawah” ke ”atas”). Yakni, Tuhan sebagai Wujud menemukan diri-Nya dan menghasilkan penciptaan, sementara Tuhan ditemukan dalam proses-mengetahui manusia melalui persepsi dan perenungan atas penampakan (mazh-har, locus) ”entitas-entitas permanen” yang mewujud ke dalam segala sesuatu yang menyusun kosmos.

Dingkapkan dengan cara lain, penampakan entitas-entitas ini, dalam berbagai intensitas, dapat (memiliki kesiapan, isti’dad untuk) menjadi wadah bagi nama-nama Tuhan. Sebagaimana diungkapkan dalam Firman-firman-Nya dalam Kitab Suci, Tuhan memiliki ”nama-nama yang indah” (al-asma’ al-husna). Setiap nama Tuhan sesungguhnya dapat  mewakili salah satu ”aspek”-Nya. Nah, ”aspek-aspek” Tuhan ini yang, satu atau lebih darinya, terkandung dalam ”sesuatu-sesuatu” (asy-ya’itu. Nama-nama tuhan yang indah ini disebut sebagai ”nama-nama universal”-Nya (al-asma al-kulliyat) sementara ”sesuatu-sesuatu” itu disebut sebagai ”nama-nama partikular (al-asma’ al-juz’iyat). Yakni, ”sesuatu-sesuatu” itu hanya bisa membawa sebagian ”aspek”-Nya. sementara ada ”sesuatu” yang hanya bisa membawa satu aspek-Nya, ada yang lebih. Batu, misalnya, secara pasif, dapat membawa aspek kemahakuasaan-Nya. Tanaman dapat membawa aspek-aspek kehidupan, pengetahuan, keinginan-Nya, dan sebagainya. Hewan mengungkapkan apa yang diungkap oleh tanaman dalam intensitas yang lebih besar. Dan seterusnya.

Dan, yang pada puncaknya, dapat mewakili ”aspek-aspek” Tuhan secara paripurna adalah manusia (mikrokosmos, al-’alam al-saghir, yang merupakan ”miniatur” dari makrokosmos, al-’alam al-kabir). Yakni, makin tinggi maqam spiritual manusia, makin intens ia dalam mewakili Tuhan. Mereka memiliki dalam diri mereka karakter-karakter (akhlaq) Tuhan. Dan yang dapat secara paripurna mewakili Tuhan adalah manusia-manusia sempurna (al-insan al-kamil), yakni Nabi Muhammad saaw. dan para wali (para teman) Tuhan yang seperti Muhammad saaw. Mereka inilah yang telah mencapai maqam tertinggi tanpa batas yang disebut sebagai maqam non-maqam. Inilah esensi keharusan mengikuti Nabi Muhammad dan para wali Tuhan. Karena dengan cara ini sesungguhnya kita dapat mengetahui Tuhan.
Tuhan mengetahui segala sesuatu (2: 231)
Tuhan meliputi segala sesuatu dalam Ilmu-(Nya)(65:12)
Niscaya Aku tunjukkan tanda-tanda Kami di ufuk-ufuk (kosmos) dan di dalam diri mereka (manusia) agar nyata bahwa dialah Al-Haqq (41:53)
Panggillah Allah atau panggillah Al-Rahman karena bagi Allah Nama-nama yang Indah .. dan katakanlah : segala puji bagi Allah, yang tidak mempunyai anak, tak pula sekutu dalam kerajaan-Nya. Dan Dia tak memerlukan penolong dari kehinaan/penghinaan, maka agungkanlah Dia dalam segenap keagungan (Al-Qur-an, 17 :110-111)
Berakhlaklah kamu dengan akhlak Tuhan (Hadis)
Sesungguhnya pada diri Rasul ada teladan yang baik (hasanah, berasal dari akar kata yang sama dengan husna). Yakni bagi orang-orang yang menginginkan Allah dan Hari Akhir, dan yang banyak mengingat-Nya (Al-Qur’an 33:21)
[Islam-Indonesia]